Hi, udah lama nih ga posting di blog. I've just created this short story and hope you guys like it :-)
Sahabat Sampai Mati
Meidiana Muharani
Bahagia
adalah ketika aku bisa tertawa dengan sahabatku. Teman, sahabat bahkan dia
adalah saudara bagiku. Kami selalu pergi berdua, dan terkadang aku mengajak
adikku untuk bergabung bersama aku dan sahabatku.
Yeye. Dialah
sahabatku. Saudara bagiku dan tempat untuk mencurahkan isi hatiku. Aku sangat
mengenal dia dari kecil. Kami bersahabat kurang lebih selama 10 tahun. Nama
aslinya adalah Yerina namun aku memanggil dia dengan panggilan sayang, yaitu
Yeye. Dari kecil kami selalu bersama, bahkan apabila badai topan menerpa tidak
akan ada yang bisa memisahkan kami.
“Bagaimana
kalau besok kita pergi ke kebun binatang? Sudah
lama sekali aku tidak kesana,” seru Yeye.
“Ide yang
bagus. Besok kita harus bangun pagi dan menyiapkan barang-barang,” jawabku.
Tiba-tiba
saja Vera adikku berteriak,
“Aku ikut,
aku ikut.”
“Baiklah
adikku yang manis, kamu boleh ikut,” jawabku.
***
Hari minggu
yang cerah kuawali dengan senyuman. Indah sekali bisa berkumpul bersama
keluarga dihari minggu dan lagi aku akan pergi ke kebun binatang bersama Yeye
dan Vera.
“Bu, hari
ini Vira akan pergi ke kebun binatang bersama Vera dan Yeye,” ucapku sumringah.
“Kalian naik
kendaraan apa? Susah lho angkutan umum kearah sana.”
“Ayah yang
antar bu, biarkan sekali sekali mereka refreshing,”
tiba-tiba saja ayah datang dan berbicara kepada ibu.
“Bagus kalau
begitu. Ibu tidak ikut ya banyak sekali pekerjaan rumah tangga yang harus ibu
selesaikan.”
“Baik bu.
Ibu hati-hati dirumah,” jawabku sambil meninggalkan ibu didapur.
***
Setelah puas
berjalan-jalan dan melihat berbagai macam hewan, mereka bergegas untuk pulang.
Alangkah buruk nasib yang menimpa mereka. Sebuah mobil truk melintas dengan
kecepatan yang sangat tinggi dan akhirnya menghantam mobil yang mereka
tumpangi.
“Kenapa
perasaanku sangat kacau? Apa yang terjadi? Ya Tuhan lindungi lah mereka dalam
jalan-Mu,” ucap ibu.
Polisi belum
selesai mengevakuasi kejadian tersebut. Ayah, Vera dan Vira selamat dalam
kecelakaan maut tersebut walaupun Vira sedang dalam keadaan kritis. Namun Yeye
harus menghembuskan nafas terakhirnya dilokasi kejadian.
Betapa
terpukulnya Vera saat mengetahui sahabat Kakak nya harus tewas dalam keadaan
yang mengerikan.
“Aku tidak
percaya. Ini semua hanya mimpi. Kak Yeye masih hidup. Baru saja aku pergi
bersama Kak Yeye. Tidak mungkin Kak Yeye meninggalkanku dan Kak Vira secepat
ini,” teriak Vera histeris sambil menangis.
“Vera, ini
semua adalah takdir Tuhan. Kita hanya manusia biasa yang tidak mungkin bisa
merubah takdir. Terimalah. Biarkan Yeye tenang dialam sana,” ayah berusaha
untuk menenangkan Vera yang masih histeris.
***
Sementara
itu, Vira masih dalam keadaan kritis. Dia mengalami luka yang cukup parah
dibagian kepala. Sungguh tragis. Namun ini adalah suratan takdir. Tuhan
memiliki tujuan yang lebih baik untuk ini semua.
“Kapan kita
akan menyelesaikan pemakaman Yeye?” tanya ibu yang masih menangis sambil
memeluk jasad Yeye.
“Secepatnya
bu. Tidak baik menunda-nunda pemakaman,” jawab ayah.
“Tapi
bagaimana kalau Vira tahu sahabatnya sudah meninggal? Dia pasti akan sangat
terpukul. Aku tidak tega melihatnya seperti itu,” ibu masih saja menangis.
“Sabar ibu.
Kak Vira pasti akan menerima semua ini, walau sulit,” ucap Vera sambil berusaha
untuk tersenyum.
***
“Yeye,
kemarilah. Temani aku membeli eskrim.”
“Aku juga
mau, tetapi aku tidak membawa uang,” jawab Yeye.
“Aku akan
membelikannya untukmu. Ayo cepat,” begitulah Vira menanggapinya dengan sangat
antusias.
Mereka
berdua sangat akrab. Bahkan Vira menganggap dirinya jauh lebih dekat dengan
Yeye dibandingkan dengan adiknya, Vera.
Suatu hari
Vera bertanya,
“Kak, apa
yang akan Kakak lakukan jika kalian terpisah?” tanya Vera kepada Kakaknya.
“Bukankah
sudah pernah aku mengatakannya? Bahwa tidak akan ada yang memisahkan kami walau
itu badai topan sekalipun.”
“Bagaimana
kalau maut yang memisahkan kalian?” Tanya Vera lagi.
“Apakah aku
harus menjawab pertanyaan konyol ini? Kau mau aku mati?” ucap Vira sambil
berpura-pura mencekik leher adiknya.
“Tidak.
Bukan begitu maksudku.”
“Baik aku
akan menjawab pertanyaan konyol mu itu. Pertama, apabila Yeye meninggalkanku
terlebih dahulu, dia harus mengajakku pergi bersamanya. Kau tahu kan bahwa aku
dan Yeye tidak bisa dipisahkan? Kedua, apabila aku yang meninggalkan Yeye
terlebih dahulu, aku akan mengajaknya pergi bersamaku.”
“Kak, kau
membuat bulu kuduk ku berdiri,” jawab Vera.
“Yang
penting aku sudah menjawab pertanyaanmu itu.”
***
Vera
teringat dengan ucapan Kakaknya bebarapa bulan silam. Tiba-tiba ia merasa
sangat takut untuk kehilangan Kakak nya tercinta. Dia berpikir bahwa Yeye akan
mengajak Vira pergi bersamanya.
“Bagaimana
kalau Kak Yeye mengajak Kak Vira pergi ke surga? Tidak. Tidak mungkin. Lebih
baik aku sholat untuk menenangkan pikiran.”
***
Sudah 4 hari
Vira tidak sadar. Jasad Yeye pun sudah dimakamkan beberapa hari yang lalu.
Dokter berkata keadaan Vira semakin memburuk tetapi dia masih mempunyai
kesempatan untuk bisa hidup asal dia mampu melawan penyakitnya. Operasi pun
sudah dilakukan dan sukses. Namun sampai detik ini Vira belum juga sadar.
Perasaan aneh
itupun muncul lagi mendatangi Vera. Dia semakin merasakan bahwa Yeye akan
membawa Vira pergi untuk selamanya.
***
Tuhan, aku mohon sembuhkan lah Kak
Vira
Jangan kau ambil nyawa nya
Terlalu cepat bagiku dan orang tuaku
Baru saja aku kehilangan Kak Yeye
Aku tidak sanggup untuk menghadapi
semua ini, Tuhan
3 jam
kemudian, dokter memanggil ayah dan ibuku. Aku tidak tahu apa yang mereka
bicarakan. Dan aku baru menyadari nya ketika ibu menangis histeris dan ayah
hanya bisa menatap kedalam ruangan dimana Kak Vira dirawat.
Ternyata
benar, Kak Vira pergi meninggalkan aku, ayah dan ibu untuk selamanya. Aku
menangis, terus menangis tiada henti sampai akhirnya aku melihat arwah Kak Vira
menatapku dan tersenyum lalu pergi.
***
Takdir Tuhan
jauh lebih indah. Aku hanya bisa menatap dua batu nisan didepanku. Orang-orang
yang sangat aku sayangi kini pergi meninggalkan aku. Kini aku hanya memiliki
ayah dan ibu.
“Awalnya ini
semua sulit dipercaya. Namun Tuhan memberikan jalan yang cerah untuk ibu agar
bisa tegar, sabar dalam mengahadapi cobaan seberat apapun.”
“Ayah sudah
merelakan kepergian Vira dan Yeye. Biarkan mereka tenang dialam sana. Ayah
yakin Yeye pasti menjaga Vira begitupun sebaliknya.”
***
Aku Vera,
gadis belia berumur 14 tahun dan sekarang aku mengerti apa arti sahabat.
Sahabat itu bukan hanya teman dekat, bukan hanya seseorang yang ada disamping
kita saat kita susah ataupun senang. Tetapi sahabat adalah teman sehidup
semati. Bukan hanya sahabat didunia, tetapi juga menjadi sahabat di akhirat.
Selamat
jalan Kak Vira dan Kak Yeye. Aku yakin kalian pasti bahagia karena tidak ada
yang bisa memisahkan kalian bahkan badai topan atau maut sekalipun.
Jakarta, 7 September 2014














