Thursday, October 16, 2014

Sahabat Sampai Mati

Posted by Unknown at 11:31 PM


Hi, udah lama nih ga posting di blog. I've just created this short story and hope you guys like it :-)

Sahabat Sampai Mati
Meidiana Muharani

Bahagia adalah ketika aku bisa tertawa dengan sahabatku. Teman, sahabat bahkan dia adalah saudara bagiku. Kami selalu pergi berdua, dan terkadang aku mengajak adikku untuk bergabung bersama aku dan sahabatku.
Yeye. Dialah sahabatku. Saudara bagiku dan tempat untuk mencurahkan isi hatiku. Aku sangat mengenal dia dari kecil. Kami bersahabat kurang lebih selama 10 tahun. Nama aslinya adalah Yerina namun aku memanggil dia dengan panggilan sayang, yaitu Yeye. Dari kecil kami selalu bersama, bahkan apabila badai topan menerpa tidak akan ada yang bisa memisahkan kami.
“Bagaimana kalau besok kita pergi ke kebun binatang? Sudah  lama sekali aku tidak kesana,” seru Yeye.
“Ide yang bagus. Besok kita harus bangun pagi dan menyiapkan barang-barang,” jawabku.
Tiba-tiba saja Vera adikku berteriak,
“Aku ikut, aku ikut.”
“Baiklah adikku yang manis, kamu boleh ikut,” jawabku.
***
Hari minggu yang cerah kuawali dengan senyuman. Indah sekali bisa berkumpul bersama keluarga dihari minggu dan lagi aku akan pergi ke kebun binatang bersama Yeye dan Vera.
“Bu, hari ini Vira akan pergi ke kebun binatang bersama Vera dan Yeye,” ucapku sumringah.
“Kalian naik kendaraan apa? Susah lho angkutan umum kearah sana.”
“Ayah yang antar bu, biarkan sekali sekali mereka refreshing,” tiba-tiba saja ayah datang dan berbicara kepada ibu.
“Bagus kalau begitu. Ibu tidak ikut ya banyak sekali pekerjaan rumah tangga yang harus ibu selesaikan.”
“Baik bu. Ibu hati-hati dirumah,” jawabku sambil meninggalkan ibu didapur.
***
Setelah puas berjalan-jalan dan melihat berbagai macam hewan, mereka bergegas untuk pulang. Alangkah buruk nasib yang menimpa mereka. Sebuah mobil truk melintas dengan kecepatan yang sangat tinggi dan akhirnya menghantam mobil yang mereka tumpangi.
“Kenapa perasaanku sangat kacau? Apa yang terjadi? Ya Tuhan lindungi lah mereka dalam jalan-Mu,” ucap ibu.
Polisi belum selesai mengevakuasi kejadian tersebut. Ayah, Vera dan Vira selamat dalam kecelakaan maut tersebut walaupun Vira sedang dalam keadaan kritis. Namun Yeye harus menghembuskan nafas terakhirnya dilokasi kejadian.
Betapa terpukulnya Vera saat mengetahui sahabat Kakak nya harus tewas dalam keadaan yang mengerikan.
“Aku tidak percaya. Ini semua hanya mimpi. Kak Yeye masih hidup. Baru saja aku pergi bersama Kak Yeye. Tidak mungkin Kak Yeye meninggalkanku dan Kak Vira secepat ini,” teriak Vera histeris sambil menangis.
“Vera, ini semua adalah takdir Tuhan. Kita hanya manusia biasa yang tidak mungkin bisa merubah takdir. Terimalah. Biarkan Yeye tenang dialam sana,” ayah berusaha untuk menenangkan Vera yang masih histeris.
***
Sementara itu, Vira masih dalam keadaan kritis. Dia mengalami luka yang cukup parah dibagian kepala. Sungguh tragis. Namun ini adalah suratan takdir. Tuhan memiliki tujuan yang lebih baik untuk ini semua.
“Kapan kita akan menyelesaikan pemakaman Yeye?” tanya ibu yang masih menangis sambil memeluk jasad Yeye.
“Secepatnya bu. Tidak baik menunda-nunda pemakaman,” jawab ayah.
“Tapi bagaimana kalau Vira tahu sahabatnya sudah meninggal? Dia pasti akan sangat terpukul. Aku tidak tega melihatnya seperti itu,” ibu masih saja menangis.
“Sabar ibu. Kak Vira pasti akan menerima semua ini, walau sulit,” ucap Vera sambil berusaha untuk tersenyum.
***


“Yeye, kemarilah. Temani aku membeli eskrim.”
“Aku juga mau, tetapi aku tidak membawa uang,” jawab Yeye.
“Aku akan membelikannya untukmu. Ayo cepat,” begitulah Vira menanggapinya dengan sangat antusias.
Mereka berdua sangat akrab. Bahkan Vira menganggap dirinya jauh lebih dekat dengan Yeye dibandingkan dengan adiknya, Vera.
Suatu hari Vera bertanya,
“Kak, apa yang akan Kakak lakukan jika kalian terpisah?” tanya Vera kepada Kakaknya.
“Bukankah sudah pernah aku mengatakannya? Bahwa tidak akan ada yang memisahkan kami walau itu badai topan sekalipun.”
“Bagaimana kalau maut yang memisahkan kalian?” Tanya Vera lagi.
“Apakah aku harus menjawab pertanyaan konyol ini? Kau mau aku mati?” ucap Vira sambil berpura-pura mencekik leher adiknya.
“Tidak. Bukan begitu maksudku.”
“Baik aku akan menjawab pertanyaan konyol mu itu. Pertama, apabila Yeye meninggalkanku terlebih dahulu, dia harus mengajakku pergi bersamanya. Kau tahu kan bahwa aku dan Yeye tidak bisa dipisahkan? Kedua, apabila aku yang meninggalkan Yeye terlebih dahulu, aku akan mengajaknya pergi bersamaku.”
“Kak, kau membuat bulu kuduk ku berdiri,” jawab Vera.
“Yang penting aku sudah menjawab pertanyaanmu itu.”



***



Vera teringat dengan ucapan Kakaknya bebarapa bulan silam. Tiba-tiba ia merasa sangat takut untuk kehilangan Kakak nya tercinta. Dia berpikir bahwa Yeye akan mengajak Vira pergi bersamanya.
“Bagaimana kalau Kak Yeye mengajak Kak Vira pergi ke surga? Tidak. Tidak mungkin. Lebih baik aku sholat untuk menenangkan pikiran.”
***
Sudah 4 hari Vira tidak sadar. Jasad Yeye pun sudah dimakamkan beberapa hari yang lalu. Dokter berkata keadaan Vira semakin memburuk tetapi dia masih mempunyai kesempatan untuk bisa hidup asal dia mampu melawan penyakitnya. Operasi pun sudah dilakukan dan sukses. Namun sampai detik ini Vira belum juga sadar.
Perasaan aneh itupun muncul lagi mendatangi Vera. Dia semakin merasakan bahwa Yeye akan membawa Vira pergi untuk selamanya.
***
Tuhan, aku mohon sembuhkan lah Kak Vira
Jangan kau ambil nyawa nya
Terlalu cepat bagiku dan orang tuaku
Baru saja aku kehilangan Kak Yeye
Aku tidak sanggup untuk menghadapi semua ini, Tuhan

3 jam kemudian, dokter memanggil ayah dan ibuku. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dan aku baru menyadari nya ketika ibu menangis histeris dan ayah hanya bisa menatap kedalam ruangan dimana Kak Vira dirawat.
Ternyata benar, Kak Vira pergi meninggalkan aku, ayah dan ibu untuk selamanya. Aku menangis, terus menangis tiada henti sampai akhirnya aku melihat arwah Kak Vira menatapku dan tersenyum lalu pergi.

***

Takdir Tuhan jauh lebih indah. Aku hanya bisa menatap dua batu nisan didepanku. Orang-orang yang sangat aku sayangi kini pergi meninggalkan aku. Kini aku hanya memiliki ayah dan ibu.
“Awalnya ini semua sulit dipercaya. Namun Tuhan memberikan jalan yang cerah untuk ibu agar bisa tegar, sabar dalam mengahadapi cobaan seberat apapun.”
“Ayah sudah merelakan kepergian Vira dan Yeye. Biarkan mereka tenang dialam sana. Ayah yakin Yeye pasti menjaga Vira begitupun sebaliknya.”
***
Aku Vera, gadis belia berumur 14 tahun dan sekarang aku mengerti apa arti sahabat. Sahabat itu bukan hanya teman dekat, bukan hanya seseorang yang ada disamping kita saat kita susah ataupun senang. Tetapi sahabat adalah teman sehidup semati. Bukan hanya sahabat didunia, tetapi juga menjadi sahabat di akhirat.
Selamat jalan Kak Vira dan Kak Yeye. Aku yakin kalian pasti bahagia karena tidak ada yang bisa memisahkan kalian bahkan badai topan atau maut sekalipun.

Jakarta, 7 September 2014

0 comments:

Post a Comment

 

Meidiana Muharani Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea